A Different World (Cerpen)

Sabtu, 30 November 2013


Sebagian manusia ingin memiliki indera keenam. Misalnya; dapat membaca pikiran orang, mempunyai kemampuan telepati, dapat melihat masa depan dan sebagainya. 10% atau lebih diantaranya memilih untuk dapat melihat makhluk halus. Entah itu hantu, jin, dan sejenisnya. Rata-rata di latarbelakangi dengan rasa penasaran akibat cerita orang-orang awam atau media-media masa….
Shilla mendengus sambil tetap membaca rentetan kata pada buku yang berada di pangkuannya. Orang-orang itu… paling-paling juga akan langsung menjerit, menangis, kabur dan langsung minta dicabut dari kutukan itu ketika melihat bagaimana paras hantu-hantu tersebut. Dikira enak lihat hantu?
Awal-awal Shilla mendapat ‘kutukan’ tersebut juga dia terus-terusan menangis. Pasalnya hantu-hantu itu terus saja mengganggunya. Dan sialnya lagi, kutukan itu datang begitu saja. Tidak bisa dilepas. Shilla bahkan sudah berulang kali mencari kyai-kyai hingga ke daerah jauh sekalipun. Tapi tetap saja dia masih bisa melihat makhluk halus.
Setelahnya, Shilla berpegang teguh pada jurus-jurus ampuh yang diberikan pada kyai-kyai yang pernah Shilla datangi. Membaca ayat-ayat suci. Shilla terus melakukannya hingga akhirnya dia terbiasa. Bahkan makhluk halus di rumahnya pun sudah pindah dengan baik-baik karena Shilla terus menghujani mereka dengan ayat-ayat suci.
Dan yang paling membuat Shilla lebih nelangsa, di setiap sudut jalan yang dilewatinya ada saja yang mengganggu. Bahkan di rumah Ify—sahabatnya—sekalipun. Akibatnya, Shilla terpaksa diam sambil berusaha ‘mengusir’ hantu tersebut dari kamar Ify. Karenanya, Shilla tidak pernah betah berada di rumah Ify.
Apalagi di sekolah. Lebih parah lagi hantunya.
Seperti sekarang. Entah kenapa Shilla merasakan dingin di sekelilingnya. Belum lagi, koridor yang sedang dilewatinya—sehabis dari toilet—ini begitu sepi. Jam pelajaran masih berlangsung.
Shilla jadi merinding sendiri. Ia menoleh ke belakang, masih tetap berjalan. Benar-benar seperti ada yang mengikutinya. Tapi tidak ada. Kosong. Dan Shilla tidak bisa benar-benar kaget ketika ia kembali menoleh ke depan.
Sesosok pemuda tengah berdiri di depannya. Memakai seragam SMA—tanpa badge—dengan tinggi menjulang. Shilla sampai jatuh terduduk ke belakang. Teriakannya pun menggema di sepanjang koridor. Pemuda itu sedikit menunduk, lalu kembali tegap. Hanya memandangi Shilla dari jarak yang lumayan dekat.
“Kok elo nggak bantuin gue berdiri, sih!?” hardik Shilla kesal. Ia kemudian berdiri sendiri, sementara pemuda itu hanya memberikan senyum tipis.
Gadis itu berdecak, ia kemudian hendak melangkah melewati pemuda yang kini masih saja menghalangi jalannya. Tapi ketika Shilla melangkah melalui sisi kirinya, pemuda itu langsung kembali menghalangi. Lagi-lagi Shilla berdecak, ia kemudian melangkah ke sisi kanan, kembali pemuda itu menghalangi.
Akhirnya Shilla berniat menerobos. Tapi yang membuat Shilla lebih kaget lagi adalah; badannya menembus pemuda itu! Shilla menoleh ke belakang. Pemuda itu tidak lagi disana. Dan saat Shilla menoleh lagi ke depan, lagi-lagi Shilla harus melonjak kaget. Sial.. hantu ternyata!
“Hai… Alvin.” Pemuda itu tersenyum.
“Nama gue Shilla, bukan Alvin,” balas Shilla kikuk. Pemuda itu tertawa.
“Tentu. Nama gue yang Alvin,” ucapnya masih sambil tersenyum. Shilla bergidik sendiri. Jadi hantu ini ngajak kenalan? Rrr—oke.. agak aneh, sih. Selama ini belum pernah ada hantu yang ramah seperti ini.
“Sorry gue harus balik ke kelas.” Langsung saja Shilla berlari menaiki tangga, kembali ke kelasnya.
“Gue tunggu di perpustakaan ya, Shilla!” teriak Alvin lantang. Sebenarnya bukan teriak juga. Karena suara Alvin memang sudah menggema di telinga Shilla.
Di rumah, Shilla kembali merutuki kesialannya. Dia memang tidak menemui Alvin di perpustakaan seperti yang pemuda itu pesankan padanya. Gantinya, Alvin yang mengikutinya kemana-mana. Sampai di rumah pun, masih saja diikuti. Ini membuatnya tidak nyaman.
“Lo ngapain sih, ngikutin gue?! Alam kita tuh beda!” tukas Shilla kesal. Dengan santai Alvin duduk di meja belajar, sementara Shilla duduk di kasur.
“Kenapa tadi nggak ke perpustakaan?” tanya Alvin pelan. Tapi tetap saja terasa menggema.
“Males. Lagian mau ngapain, sih? Lo kan hantu. Kalo mau ngajak jadian juga nggak mungkin, kali!” jawab Shilla kesal. Ia merebahkan diri diatas ranjangnya. Baginya Alvin hanya hantu. Yaa… walaupun tampang hantu itu sedikit tidak wajar—soalnya ganteng banget-, tapi tetap saja Alvin cuma hantu.
Alvin kemudian tersenyum geli. “Siapa juga yang ngajak jadian? Gue mau minta tolong, tau.” Shilla kontan melirik Alvin. Nah, ini beda lagi. Biasanya hantu yang ia temui tidak pernah minta bantuan, yang ada malah Shilla yang minta bantuan pada hantu tersebut untuk pindah dari tempatnya sekarang.
Tapi hantu ini beda. Dasar hantu unik.
“Bantuan apa?” tanya Shilla penasaran.
“Gue minta elo untuk nemuin mayat gue. Gue ini korban tabrak lari,” jawab Alvin sedikit muram. Shilla menyernyit.
“Kok elo tiba-tiba minta bantuan ke gue, sih? Kenapa nggak ke usztad atau kyai gitu?”
“Mereka sih, bukannya bakal bantuin gue. Tapi bakal ngebalikin gue ke alam yang seharusnya. Padahal kan gue mau nyari mayat gue, biar gue dikubur dengan layak. Gitu, Shill,” jawab Alvin jelas. Shilla jadi iba juga. Alibi yang bisa diterima. Tapi kenapa dirinya yang ketiban sial, sih?!
“Emang lo rr—ketabraknya dimana?” tanya Shilla hati-hati. Dalam hati Shilla merapal, kalo jauh-jauh sih, sori-sori saja. Dia tidak bisa bantu.
“Di daerah Bandung, kayaknya.” Mata Shilla langsung membulat.
“Itu, sih, kejauhan. Gue nggak bisa, Vin. Sori,”
“Shilla.. please… gue butuh banget bantuan lo. Cuma elo yang nggak takut lagi sama hantu, yang lainnya sih masih pada takut. Apalagi kalo gue kagetin kayak elo tadi,” ujar Alvin memohon. Benar juga, sih. Shilla sudah kebal terhadap hantu. Walaupun nggak kebal-kebal amat karena hantu selalu menyebalkan.
“Bandung tuh jauh, Vin. Gue mau kesana naik apa? Kereta Trestal yang di Harry Potter?” mau tidak mau Alvin tertawa juga. Shilla memang kandidat cocok. Disaat begini malah membuat seorang hantu tertawa geli.
“Yahh.. masalah itu kita pikirin sama-sama lah, Shill. Yah? Pleaseeee banget… selama kita mikirin jalan keluarnya, gue bakal jadi malaikat pelindung lo, deh, Shill!” tawar Alvin yang tidak seberapa itu. Tapi Shilla berpikir, lumayan juga kalau Alvin jadi malaikat pelindungnya. Kan seru bisa jailin Ify atau teman-temannya yang lain.
“Hmm.. yaudah deh,”
Keesokannya di sekolah benar-benar mengasyikkan. Belum lagi Ify yang katanya melihat sebuah buku jatuh dengan sendirinya dari meja Shilla. Sedangkan Shilla hanya tertawa geli.
Atau disaat Keke—cewek yang paling dijudesi oleh Shilla—terbirit-birit karena melihat pantulan wajah Alvin di toilet perempuan. Ah, hidup memang indah saat dia bersekutu dengan hantu. Eh, tapi hantunya baik, ya!
Tapi karenanya Shilla lupa dengan Ujian Kenaikan Kelas yang akan dilaksanakan besok. Semuanya karena Alvin si hantu sial! Kalau begini bagaimana dia bisa belajar? Memikirkan bagaimana cara menemukan mayat Alvin membuatnya jadi kelimpungan sendiri. Jangankan ke Bandung, pergi sendirian ke Mal sama sudah dibombardir oleh kedua orangtuanya. Sampai-sampai menyita segala gadget yang Shilla punya. Apalagi ke Bandung?
Sekarang Shilla tengah termenung bingung di meja belajarnya. Ah, kalau begini caranya semua yang ada di depannya sudah tidak bisa lagi dicerna oleh otaknya.
Shilla melirik ke arah jam dinding kamarnya. Pukul 23.40. Sial, mana besok harus bangun pagi juga. Sepertinya Dewa Sial sedang bertengger manis di pundaknya sekarang ini.
“Besok lo ulangan, kan?” tanya Alvin kalem. Shilla mendelik. Disaat seperti ini masih saja dipertanyakan!
“Iya. Dan ini semua gara-gara elo, gue jadi nggak konsen belajar!” hardik Shilla tajam. Biar saja hantu itu dimarahi olehnya. Siapa takut?! Toh, hantu-hantu itu tidak akan bisa menyakiti Shilla.
Tapi Alvin malah terdiam muram. “Sori, ya, Shill. Besok gue bantuin, deh. Janji!” kata Alvin sungguh-sungguh. Shilla menyipitkan mata, memangnya hantu bisa mikir? Tapi Shilla mengenyahkan pikiran itu dan hanya mengangguk. Lagipula kantuk sudah menguasai hampir seluruh dirinya, lebih baik dia tidur.
“Heh, gue mau tidur. Lo keluar sana! Ke ruang tamu aja kalo mau,” tegur Shilla masih galak. Alvin mengangguk mengerti. Pemuda—hantu—itu keluar dari kamar Shilla. Tanpa melalui pintu, pastinya.

**

Alvin benar-benar membantu Shilla. Setelah seminggu akhirnya ujian mengerikan itu berakhir. Shilla bersyukur mempunyai hantu—sekaligus merangkap sebagai pembantu—seperti Alvin. Banyak membantu. Dan penurut.
Sekarang giliran Shilla yang membantunya. Tapi tetap saja Shilla masih bingung. Siapa juga yang mau mengantarnya ke Bandung? Mama? Papa? Aduh jangan harap!
“Masalah pertama dan satu-satunya cuma; siapa yang mau nganterin gue? Seseorang yang mampu dipercaya, dewasa, dan harus cewek.” Shilla memainkan pulpennya pelan. Alvin hanya bisa duduk di meja belajar dekat Shilla.
“Mmm.. nyokap lo?”
“Aduh plis itu adalah jawaban paling tolol. Nyokap gue mana mau nganterin!” kata Shilla tajam. Alvin lalu terdiam, sambil berpikir.
“Waktu gue dikit lagi, nih,” ujar Alvin pelan. Shilla menatap Alvin pasrah.
“Yah…”
“Gini aja deh,” Alvin memberikan Shilla secarik kertas berisi alamat. “Coba lo kesini, dan minta tolong. Gue dapet alamat itu di kelas lo tadi. Kalo lo ditanya, lo jawab jujur aja.” Shilla menyernyit.
“Gimana gue bisa tau kalo ini orang baik? Lagian gue nggak kenal,” ucap Shilla sambil meletakkan secarik kertas tersebut diatas buku.
“Rumahnya deket-deket sini kok, Shill. Gue yakin dia baik. Lagian gue nemunya di kelas elo. Siapa tau aja alamat salah satu temen lo,” kata Alvin meyakinkan. Shilla kemudian berpikir sebentar. Tidak ada salahnya mencoba. Lagipula dia berhutang banyak pada Alvin. Akhirnya Shilla hanya mengangguk.
“Waktu gue semakin sempit, nih. Gue minta izin dulu, ya. Kalo gue nggak balik-balik lagi, berarti gue nggak dapet izin. Terima kasih, ya, Ashilla!” ucap Alvin kemudian langsung menghilang. Shilla panik. Tidak mengerti maksud ucapan Alvin. Kalau mayatnya tidak bisa ditemukan, apa Alvin bakal gentayangan lagi? Atau siapa tahu kalau Shilla tidak membantu Alvin, pemuda itu malah bakal mengganggunya setiap saat tanpa mau diusir.
Dengan tekad kuat, keesokan harinya Shilla berangkat ke alamat rumah tersebut. Shilla juga tidak begitu tahu dimana tempatnya. Taksi adalah alat transportasi pilihannya. Selain nyaman, tinggal sebut alamat, pak supir langsung tancap gas.
Shilla menekan-nekan bel rumah tersebut. Kemudian seorang wanita, sebaya mamanya membukakan pintu. Terheran-heran dengan kedatangan gadis asing ke rumahnya siang hari begini.
“Cari siapa, Nak?” tanya wanita itu heran. Shilla jadi kikuk dan salah tingkah.
“Ah, anu.. itu..”
“Ah, sudah sudah. Ayo masuk dulu.” Wanita itu kemudian membimbing Shilla masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu keduanya duduk di sofa yang berhadapan.
Shilla tidak tahu harus mulai berbicara darimana. Antara malu, bingung, kikuk, ingin cepat-cepat balas budi dan berbagai perasaan campur aduk lainnya.
“Kamu siapa, ya?” tanya wanita itu ramah, disertai senyum. Shilla yang awalnya tegang jadi agak rileks.
“Saya Ashilla, Tante.” Shilla kemudian melanjutkan, “maaf sebelumnya, Tante. Jadi saya..” Shilla menelan bulat-bulat kemaluannya menceritakan bahwa ia sebenarnya bisa melihat hantu. Ah, kepalang tanggung. Walaupun Shilla sudah melihat gurat-gurat kekagetan luar biasa dari wajah wanita di depannya, Shilla tetap bercerita.
Bahwa dia bisa melihat hantu sejak umurnya 12 tahun (sekarang Shilla 17 tahun), yang kemudian langsung kepada ia bertemu hantu bernama Alvin, lalu hantu tersebut memintanya menemukan jasadnya yang berada di sekitar Bandung. Shilla juga menceritakan dengan detail Alvin yang memberikan alamat ini untuknya, dan harus bercerita terus terang jika pemilik rumah ini bertanya padanya.
Shilla betul-betul memperlihatkan kalau ia tidak berbohong. Ia semakin heran lagi ketika wanita itu malah menangis di depannya. Shilla jadi panik.
“T-Tante, ma-maaf..”
“Alvin.. Alvin pakai baju apa?” tanya wanita itu resah. Shilla sejenak mengingat-ingat.
“Seragam SMA, Tante,” jawab Shilla takut-takut.
Wanita itu berdiri, menggandeng Shilla berjalan menaiki tangga kemudian berhenti di depan sebuah kamar. Wanita itu membuka pintu kamar tersebut. Nuansa cowok jelas terlihat dari situ—terlihat dari poster para pemain bola, dan tidak adanya meja rias—. Shilla menyernyit. Kenapa membawanya kesini?
Shilla kemudian terlonjak ketika menemukan foto Alvin diatas nakas disamping tempat tidur. Diatas ranjang, banyak terdapat foto-foto dirinya—Shilla—saat sedang sadar maupun tidak sadar. Dengan berbagai ekspresi. Entah itu kesal, sedih, bahagia, tertawa lepas dan banyak lagi.
Ukurannya kecil-kecil, jadi Shilla tidak bisa melihat dari kejauhan. Disusun rapi membentuk huruf A besar. Shilla masih tidak percaya ketika bertumpuk-tumpuk bunga disamping tong sampah dibawah meja belajar, cokelat, surat dan hadiah-hadiah yang masih terbungkus. Shilla menghampirinya.
Semua surat itu, untuk Ashilla. Namanya. Semua yang tertera diluar hadiah-hadiah itu, secarik kertas kaku yang berada di bunga dan cokelat, semuanya ditulis dengan namanya. Belum lagi, diatas meja belajar, tepat di temboknya, terdapat kertas kecil berwarna-warni yang berisi tulisan dengan font kecil.
Shilla langsung syok. Ditutupnya mulutnya dengan kedua tangan. Berusaha menahan tangis. Tulisan-tulisan itu merupakan kebiasaan-kebiasaannya, musik favorite-nya, penyanyi favorite-nya dan banyak lagi. Shilla habis kata-kata.
“Alvin sering cerita sama Tante, tentang kamu. Alvin manggil kamu Ara (Shilla terlonjak. Nama kecilnya!!), bukan Shilla. Jadi Tante nggak tau kalo kamulah orang yang selalu diceritain sama Alvin.” Wanita itu sejenak menghapus jejak air mata di pipinya. “Sebelum Alv kecelakaan, dia bilang mau kenalan sama kamu. Alv kenal kamu karena sekolahmu bersebrangan sama sekolahnya,” ucap wanita itu ketika dilihatnya Shilla heran. Wanita itu mengerti apa yang berkecamuk di kepala gadis itu. “Alv bilang, sepulang sekolah dia akan kenalan dan kasih kamu bunga ini.”
Shilla kemudian melihat arah tunjukkan tangan dari wanita di hadapannya. Tepat diatas ranjang Alvin. 100 bunga lili, ikatannya terlepas. Masih ada darah yang mengering disana, kelopaknya sudah sedikit layu. Shilla mendekat, dilihatnya kertas kecil yang berimpitan dengan bunga-bunga tersebut. ‘Hai, Shilla. Salam kenal, ya :)’
“Waktu Alv mau nyebrang ke sekolahmu, ternyata lagi ada tawuran disana.” Shilla ingat kala ia pulang terlambat demi keselamatan para murid. Seluruh murid—kecuali yang sedang ikut-ikutan tawuran—diperintahkan untuk tetap di dalam sekolah. “Alv terjebak dalam kerumunan orang. Sampai akhirnya dia jadi korban salah sasaran. Entah itu batu, kepala  sabuk atau apa yang mengenai kepalanya. Alv langsung dibawa ke rumah sakit. Tapi dia hanya bertahan beberapa jam.” Wanita itu kembali terisak. “Sebelumnya Alv udah bilang sama Tante, dia harus ketemu sama kamu. Dia mau kamu tau kalo dia menyukai kamu dari lama, meski dia udah tiada.” Shilla mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Adakah yang bisa melebihi usaha Alvin untuknya? “Tante nggak pernah kepikiran kalo ternyata Alv benar-benar datengin kamu, meski dengan alasan lain.”
Setelahnya, Shilla minta ditunjukkan ke makam Alvin. Pemuda itu telah dimakamkan di pemakaman keluarga agak jauh dari rumahnya sendiri. Disanalah Shilla termenung menatapi nisan di depannya.
“Maaf, ya,” ucap Shilla pelan. Entah maaf karena apa. Mungkin karena ia membuat Alvin menunggu lama mengetahui bahwa pemuda itu mencintainya.
Kini Shilla tahu mengapa Alvin mendatanginya. Bukan kepada anak-anak lain. Ia memanfaatkan keberanian Shilla pada hantu untuk menjalankan alibinya. Mungkin Alvin sengaja juga berlama-lama dengannya, menuruti semua kemauannya, menjadi malaikat pelindungnya, karena semasa hidup pemuda itu belum pernah dekat bahkan kenal dengan Shilla.
“Kenapa gue baru tau sekarang?” tanya Shilla lirih. Dipandanginya makam Alvin dengan tatapan nanar. Pemuda itu benar mencintainya. Mengapa ia harus pergi sebelum Shilla mengenalnya?
Sepulang dari situ, wanita—yang sudah dipastikan mamanya Alvin—mengantar Shilla pulang ke rumah. Wanita itu juga meminta Shilla untuk membawa seluruh bunga, cokelat, surat serta hadiah-hadiah yang masih terbungkus rapi bersamanya. Kalau Alvin masih ada, dia pasti akan memberikannya semua pada kamu, ucapnya kala itu.
Shilla tidak mampu lagi berkata-kata. Akankah Alvin mengunjunginya lagi? Walau setelah seminggu berlalu? Yang bisa Shilla rasakan darinya adalah perlindungan. Shilla merasa dilindungi. Dan merasa aman. Walau Shilla tidak lagi melihatnya.
Biarkanlah semuanya tersimpan rapi dalam memori pikiran Shilla. Semuanya memang sudah terlambat. Tapi ini lebih baik. Shilla tahu betapa cintanya Alvin kepadanya, dan Shilla tahu Alvin akan merelakannya bahagia bersama orang lain.

3 komentar:

  1. Keren kak lysaaaa waaaawwwwww kerennnnn, tapi kenapa alvin harus jadi hantuuu aaa;( pokoknya keren keren keren! speechless deh bacanya;;)

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Cerbung2 atau cerpen yg ada di dunia ini sebenernya isinya sama aja... Makannya mgkin ada orang yg tidak suka membaca kisah/karangan... Bagi orang yg suka, mereka menilai jalan ceritanya, menilai cara penulis menyampaikan kisah yang dibuatnya... Contohnya cerita dr kak Lysa ini, mungkin banyak kita jumpai, tapi cara penyampaiannya benar2 dalam dan nggak bisa di sepelekan... Terus berkarya kak

    BalasHapus

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS